MAJALAH VOKAL KUPAS PERSOALAN DAERAH PESISIR

Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia salah satunya adalah pengelolaan wilayah-wilayah pesisir. Ada banyak cerita yang terkabarkan dari pesisir, tidak hanya rob, tetapi juga abrasi, dan permukaan air yang naik. Hal inilah yang jadi bidikan Majalah Mahasiswa Vokal edisi 36, majalah Mahasiswa Universitas PGRI Semarang. “Apa yang dilakukan oleh teman-teman Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal ini di luar kotak, sebuah tema yang jarang diangkat oleh pers mahasiswa.” Pernyataan ini disampaikan oleh Amin Fauzi, salah satu pembedah yang dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).

Majalah mahasiswa yang telah berdiri sejak tahun 1991 ini pada Rabu (29/03) menggelar bedah majalah yang bertajuk “Kabar Dari Persisir”, acara digelar di aula PKM lantai 2 Gedung B UPGRIS.

Bedah majalah ini berkonsep seperti diskusi, namun membincang tema besar. Di edisi ke XXXVI ini, terungkap kabar dari pesisir yang memprihatinkan, dimana warga pesisir Semarang mengalami rob yang setiap tahun semakin meninggi dan akhirnya mengganggu aktivitas masyarakat pesisir. Alasan memilih tema ini merupakan suatu bentuk kepedulian mahasiswa UPGRIS atas nasib para masyarakat pesisir di Semarang.

Muhamad Muhajir, direktur Vokal Institut (ViS) dan redaktur jurnal Urbanologi yang hadir sebagai pembicara mengungkapkan pengamatannya sebagai anak pesisir. Ia menceritakan bahwa rob dan banjir di pesisir sudah terjadi semenjak dulu, sejak dia kecil. Tetapi abrasi baru gencar terjadi akhir-akhir ini. “Akibat dari rob dan banjir tidak separah akibat dari abrasi. Jika rob hanya datang pada musim tertentu tetapi abrasi mengakibatkan jumlah hunian berkurang, abrasi juga berakibat harga tanah turun drastis. Dan ini menambah penderitaan warga pesisir. Jika ia mau pindah, harga tanahnya tidak cukup untuk membeli tanah lagi.” Ujar pria asli desa pesisir Wedung Demak ini.

Menurut Anjar Mustika Bening selaku Pemimpin Umum LPM Vokal, acara ini bertujuan untuk evaluasi agar edisi majalah yang akan datang lebih baik. “Dengan membedah majalah ini, ia juga ingin mengemukaan masalah-masalah yang terjadi di pesisir agar mendapat perhatian lebih.”

Acara ini juga dihadiri oleh lembaga pers dari berbagai Universitas lain di antaranya Unissula, Universitas Wahid Hasyim, dan terlihat pula beberapa pengurus PPMI Dewan Kota Semarang.

“Tidak ada salahnya LPM Vokal mengngkat tema ini dalam majalah kampus, karena ini merupakan suatu bentuk kepedulian para kaum muda akan nasib yang dialami warga pesisir dan mengajak para pembaca agar tahu dan peduli pula dengan lingkungan sekitar. Namun alangkah baiknya LPM Vokal mengangkat tema tentang pendidikan. Karena tema tersebut sepertinya memang lebih cocok bicarakan dalam kalangan lingkungan kampus PGRI ini.” ujar Amin Fauzi.

Widyanuari Eko Putra, esais yang juga hadir dalam forum itu, mengemukaan bahwa sesaui pengamatannya setelah membaca belasan edisi majalah Vokal adalah, majalah Vokal sering menjauh pada masalah-masalah yang ada didekatnya yaitu mahasiswa. “Pada edisi sebelumnya membahas komonitas seni kota, musium, sungai. Mengapa tidak mengangkat tema masalah pendidikan dan mahasiswa. Tema sederhana yang bisa daingkat misalnya selera bacaan mahasiswa, selera makan mahasiswa, dan lain-lain. Dengan demikian mahasiswa akan menjadi dekat lagi dengan Vokal.”

Acara yang digelar oleh LPM Vokal cukup meriah karena selain bedah majalah, acara ini juga dimeriahkan oleh bacaan puisi Akustik dari mahasiswa UPGRIS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *